SOS Children’s Villages ajak publik peduli masa depan putra putri Aceh

 

Jakarta (24/10)- Hampir satu dekade pasca gempa maha dahsyat Tsunami yang meluluhlantakkan bumi Serambi Mekkah 26 Desember 2004, Aceh kian mantap merajut masa depannya. Tak terkecuali putra putri Aceh yang pernah selamat dari gempa Tsunami. Sebagai organisasi non-profit yang memberikan pengasuhan alternatif bagi anak-anak yang kehilangan pengasuhan atau beresiko kehilangan pengasuhan, SOS Children’s Villages Indonesia turut serta mengupayakan masa depan yang lebih baik untuk anak-anak Aceh sejak Tsunami menghantam Aceh 2004 lalu hingga kini.
 
Mistahul Jannah misalnya, putri Aceh yang saat ini duduk di kelas 2 SMA kehilangan ibunya saat Tsunami dan butuh beberapa waktu untuk menemukan ayah kandungnya. Setelah difasilitasi SOS Children’s Villages untuk reunifikasi dengan ayahnya, Mistahul lalu memutuskan untuk tetap tinggal dalam pengasuhan SOS Children’s Village.  SOS Children’s Village Banda Aceh dan ayah Mistahul bersama mendukung proses pendidikan Mistahul. Ketekunannya berlatih taekwondo sejak kecil berbuah prestasi membanggakan. Kejuaraan tingkat provinsi menjadi pemacu semangat Mistahul meraih berbagai medali di cabang olahraga taekwondo.
 
Kisah lainnya adalah Putri Tsunami Irayana, gadis berusia 10 tahun yang dilahirkan di atas atap masjid saat Tsunami Aceh juga menjadi cerita inspiratif yang menyiratkan harapan melalui proses kelahiran yang tak biasa, sarat akan keajaiban. Keluarga Putri kini menjadi salah satu keluarga dampingan SOS Children’s Village Meulaboh melalui program penguatan keluarga atau Family Strengthening Program (FSP).
 
Sejak tahun 2004 saat Tsunami mengguncang Aceh, bantuan dan dukungan diberikan SOS Children’s Villages dalam bentuk emergency response dengan mendirikan child-friendly spaces (CFS) di tenda-tenda pengungsian. Melalui CFS, para relawan SOS berupaya menyediakan kawasan yang aman dan kondusif bagi anak-anak untuk dapat melakukan beragam kegiatan, bermain, dan berekspresi. Selain itu, SOS Children’s Villages juga menyediakan informasi mengenai anak yang yang terpisah dari orang tua agar keluarga dapat menemukan anak-anaknya yang terpisah dan berkumpul kembali menjadi sebuah keluarga utuh. Upaya rehabilitasi dan rekonstruksi 521 rumah di tiga desa yakni Desa Lambadha Lhok, Suak Raya, dan Gampung Cot serta bangunan masjid, sekolah, serta penyediaan peralatan sekolah dan pertanian juga dilakukan SOS Children’s Villages pasca Tsunami. Sebagai respon terhadap banyaknya anak-anak yang kehilangan pengasuhan, pada tahun 2006 tiga village mulai dibangun di dua lokasi yaitu Banda Aceh dan Meulaboh. Kedua village tersebut menyediakan 15 rumah dengan satu ibu asuh dan 8-10 anak asuh di tiap rumahnya. Pola pengasuhan berbasis keluarga diterapkan di setiap village dengan hadirnya sosok ibu asuh dan terbangunnya hubungan kakak-adik di antara anak-anak asuh di tiap rumah.
 
“Hampir sepuluh tahun setelah Tsunami Aceh, SOS Children’s Villages Indonesia menyaksikan secara langsung, hari demi hari perkembangan anak-anak korban tsunami yang berada dalam pengasuhan SOS Children’s Village di Banda Aceh dan Meulaboh. Kisah inspiratif para pejuang tsunami cilik Aceh yang mampu mengubah duka menjadi asa menjadi penyuntik semangat kami untuk senantiasa mengupayakan pengasuhan alternatif berkualitas. Di pundak mereka masa depan Aceh dan bangsa ini kita titipkan,” ungkap National Director SOS Children’s Villages Indonesia, Gregorius Hadiyanto Nitihardjo.
 
Dalam rangka peringatan sepuluh tahun Tsunami Aceh, SOS Children’s Villages Indonesia menyelenggarakan kampanye bertajuk “Tsunami Survivor: Duka Hanyut Berganti Asa.” Melalui kisah para Tsunami Survivor, SOS Children’s Villages Indonesia menyerukan pentingnya pengasuhan alternatif berkualitas berbasis keluarga sebagai penanganan bagi anak-anak korban Tsunami yang telah kehilangan pengasuhan. Kampanye diawali dengan peluncuran website Tsunami Survivor yang menampilkan kumpulan kisah inspiratif para pejuang Tsunami Aceh sekaligus juga ditujukan sebagai platform untuk menggalang dana dari masyarakat luas.
 
“Melalui program donasi Satu Aksi untuk 10 Tahun Tsunami, kami ingin mengajak publik secara luas untuk mendukung kerja SOS Children’s Villages Indonesia di Aceh khususnya dalam memberikan pengasuhan alternatif bagi putra-putri Aceh yang kehilangan pengasuhan akibat bencana Tsunami. Mistahul Jannah dan Putri Tsunami Irayana hanyalah potret kecil yang mewakili anak-anak korban Tsunami Aceh lainnya yang kini berada dalam pengasuhan SOS Children’s Villages Indonesia,” imbuh Fund Development & Communication Director SOS CV Indonesia, Linda Sukandar.
 
Publik dapat turut serta dalam gerakan “Satu Aksi untuk 10 Tahun Tsunami” dengan berdonasi secara online melalui website www.sos.or.id/tsunamisurvivor atau www.care4me.id/tsunamisurvivor . Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memastikan para pejuang tsunami Aceh yang ada dalam pengasuhan SOS Children’s Villages Indonesia memperoleh haknya dalam pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan yang berkualitas.

  • Atas
  • Cetak