Namanya Putri Tsunami

Inilah kisah pilu tragedi besar yang terjadi  10 tahun lalu.  Gempa bumi yang disertai gelombang tsunami 26 Desember 2004 meluluhlantakkan negeri serambi mekah  Nangroe Aceh Darusalam. Rintihan dan tangisan terdengar, menyayat batin  ribuan orang yang kehilangan sanak saudara. Berjuta kisah pahit mengisi lembar demi lembar ingatan masyarakat Aceh, tak ada kuasa untuk bangkit  melanjutkan hidup.

Pagi itu air bah menyapu bersih desa Gampong Cot. Ribuan orang tergulung dalam pusaran air, mereka yang selamat berusaha bertahan di atap mesjid satu-satunya bangunan yang tersisa.  Ibu Sarjani yang  sedang hamil tua, tak kuasa menahan sedih mengetahui dua putrinya tak tertolong. Kisah menyayat hati terurai  kala bayi mungilnya  lahir ketika gelombang tsunami tengah menghantam Aceh. Tak ada pilihan baginya selain harus melahirkan bayinya di atap sebuah mesjid. Dengan keranjang buluh seadanya, bayi mungil itu dibawa menuju klinik terdekat dengan mengarungi air bah selama tujuh jam.  Duka tak beranjak dari Ibu Sarjani. Adnan suaminya meninggal dunia sesaat kemudian karena luka di sekujur tubuhnya.  

Udep tanyau nyoe meusti ta peujak laju" yang artinya hidup harus terus berjalan. Duka Ibu Sarjani pupus  terbawa air bah. Bayi mungilnya yang diberi nama Putri Tsunami Irayani menjadi penyemangat hidupnya. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana bantuan dari SOS Children’s Villages Indonesia. Bersama 130 kepala keluarga lainnya di desa Gampong Cot, mereka melanjutkan hidup.  Seperti kisah dongeng, Putri hidup bahagia bersama ibunya. Bekerja sebagai guru TK, Ibu Sarjani berusaha memberikan yang terbaik bagi putri semata wayangnya.  Tingkah polah riang Putri membuatnya memiliki banyak teman. Menari adalah kegiatan yang disukai Putri bersama teman-temannya.  Putri yang kini duduk di kelas lima SD Madrasah Ibtidaiyah Negeri Meulaboh bercita-cita ingin menjadi Dokter. Walaupun tak yakin mampu membiayai pendidikan putrinya sampai menjadi Dokter, ibu Sarjani bangga pada Putrinya yang memiliki cita-cita besar. Tahun 2013 mereka pindah dari desa Gampong Cot ke kota Meulaboh, meninggalkan segala kenangan untuk mengejar masa depan.  

Putri Tsunami Irayani dan ibunya, sebuah diorama pilu yang berhasil  menyusun kembali semangat untuk hidup. Sepuluh tahun berlalu pasca tragedi Tsunami, SOS Children’s Villages Indonesia terus berupaya mendampingi ribuan anak di Banda Aceh dan Meulaboh mewujudkan mimpi-mimpi besar mereka, perlahan tapi pasti menata masa depan yang lebih baik.  
 
 
  • Atas
  • Cetak