Pak Amri si pandai besi


SOS Children’s Village Banda Aceh di akhir tahun 2011 melalui
Family Strengthening Pogramme (FSP) mendampingi sebuah keluarga sederhana di desa Lampeuneurut Gampong.   Pak Amri  dan istrinya   Nurlaila memiliki 3 orang anak perempuan, Nur Amelia   duduk di kelas 4 SD, anak keduanya bernama Nuril  bersekolah di TK SOS Children’s Village Banda Aceh,  dan si bungsu Fathiya Zahira  berusia 9 bulan.
 
Pak Amri  bekerja sebagai pandai besi  kasar di tempat pembuatan parang atau golok  milik orang didesa Lamcot yang berjarak 2 Km dari tempat tinggalnya. Istrinya Nurlaila berjualan bensin dan makanan ringan di kios kecil dekat trotoar  depan rumah kecil   yang ditempati mereka karena belas kasihan seseorang. Pak Amri hanya membayar biaya listriknya saja setiap bulannya.
 
Suatu ketika tim FSP mengajak diskusi  tentang harapan dan keinginan Pak Amri yang belum tercapai.  Dengan senyum simpul pak Amri  berharap  bisa  memiliki usaha sendiri, tidak lagi bekerja  dengan orang. “Sekarang kami serba kekurangan, tempat tinggal masih numpang, kerjaan pun tergantung dengan orang yang punya usaha” ucap pak Amri. Kios  bensin  ibu Nurlaila belum dapat membantu ekonomi keluarga. Warung yang berada di pinggir jalan sering membuat resah ibu Nurlaila karena sembari mengasuh anaknya saat berjualan.
 
Pertengahan tahun 2013 pemilik rumah yang ditempati  pak Amri   berencana menempati sendiri rumah tersebut sehingga  harus seluruh keluarganya pindah dari rumah yang selama ini ditempatinya. Pindah rumah berarti usaha kios bensin pun  harus tutup. Beruntung pak Amri memiliki warisan  sepetak tanah sawah  dari orang tuanya,  tanah itulah yang menjadi harapan untuk tempat tinggalnya.  Berbekal upah kerja dan penjualan usaha kiosnya,  Pak Amri  bisa membangun rumah panggung  sederhana berdinding triplek dan atap dari seng bekas. “Alhamdulillah, walaupun jelek tetapi sekarang sudah tinggal di rumah sendiri,  ujar  ibu Nurlaila dengan senang.
 
Tinggal di tempat  baru membuat keadaan ekonominya menjadi sulit. Hanya bersumber dari  upah kerja  pak Amri yang tak tetap, banyak kebutuhan hidup yang terbengkalai.  Walaupun kebutuhan pendidikan anak terbantu oleh FSP,  biaya kebutuhan rumah tangga  yang terus meningkat membuat  keadaan  semakin sulit.  Sesekali pak Amri harus pulang ke rumah mertua untuk sekedar memohan bantuan, tak jarang juga ia  berhutang kesana kemari untuk membeli kebutuhan sehari-hari.  Tanah garapan sawah milik tetangga yang mereka kerjakan juga tidah membuahkan hasil.  Walau  hidupnya  sulit, tetapi anak-anak  pak Amri  selalu bersyukur dan tidak banyak menuntut.   Amalia si sulung  sudah bisa belajar memasak untuk membantu ibunya.
 
Melihat kondisi ini, FSP SOS Children’s Village Banda Aceh memberi  bantuan berupa modal usaha untuk pembuatan parang/golok. Bpk. Amri  begitu gembira mendengar  berita baik ini akhirnya ia bisa mengembangkan usaha. Dengan modal satu juta rupiah bantuan dari SOS Children’s Village Banda Aceh  pak Amri membeli peralatan yang dibutuhkan untuk  menjalankan usahanya.   Memiliki material yang lengkap membangitkan semangat pak Amri untuk membuat parang.  Seminggu sekali parang dan golok hasil  usahanya dititipkan  ke  toko alat pertanian, terkadang ada juga orang yang memesan langsung  kepadanya.
 
Ibu Nurlaila  ingin membantu suami memenuhi kebutuhan keluarga dengan mengembalakan  kambing milik tetangga dengan upah bagi hasil. Bila kambing yang pelihara  memiliki anak maka  akan di bagi dua, satu ekor untuk  pemilik kambing dan satu ekor lagi   menjadi upah Ibu Nurlaila.  Usaha  ini sudah dijalani  selama 10 bulan dan kini Ibu Nurlaila sudah memiliki 2 ekor kambing dari jasa upahnya mengurus kambing. Raut wajahnya bahagia sekarang, tak ada lagi wajah letih berpeluh keringat. Puluhan keluarga lain bersama FSP Village Banda Aceh terus belajar menjadi mandiri. Dukung mereka menjadi keluarga-keluarga tangguh dengan mengembangkan potensi keluarga.   
  • Atas
  • Cetak