Dua Kartini dari Kulon Progo Yogyakarta

Sosok Raden Ajeng Kartini, pahlawan nasional Indonesia yang memperjuangkan hak perempuan dan mempelopori kebangkitan perempuan menjadi inspirasi bagi banyak wanita di Indonesia, termasuk Mujuati dan Kamsiatin, dua sosok wanita tangguh dari Kulon Progo, Yogyakarta. Dua kartini modern ini menggerakkan wanita-wanita lain di dusunnya agar bisa berkembang dan mandiri.

Mujiati, ibu dua orang anak ini perihatin dengan kondisi ibu-ibu di sekitar rumahnya yang sering mengeluhkan kekurangan uang belanja, tapi tak memiliki kemampuan memulai usaha. Ia pun berinisiatif untuk menumbuhkan jiwa usaha pada ibu-ibu tersebut. Usahanya ini mendapat dukungan dari SOS Children’s Villages Indonesia melalui program Family Stranghtening Program (FSP). Bersama SOS, Mujiati mendampingi puluhan keluarga di beberapa dusun di Kulon progo sejak Mei 2014 agar mereka dapat berkembang menjadi keluarga-keluarga mandiri.

duo-kartini-1.png

Pada awal terbentuknya, program dampingan FSP di Dusun Klampis ini mendapat dukungan dari Dinas Sosial Kota Kulonprogo berupa bantuan bibit ayam kampung untuk 18 keluarga. Mujiati ditunjuk menjadi penggerak kelompok ternak ayam yang kini beranggotakan 39 orang. Dari belasan ekor anak ayam, tiap keluarga kini bisa memiliki hingga puluhan ekor ayam yang dipelihara di tiap-tiap rumah warga. Tidah hanya beternak ayam, Mujiati yang memiliki pandangan luas dan semangat untuk berkembang, mendorong para ibu-ibu di Dusun Klampis mencoba berbagai usaha. Saat ini, beberapa usaha rumahan berkembang, seperti pembuatan pisang sale dan kerajinan tas dari bahan eceng gondok.


Berjarak sekitar dua kilometer dari dusun Klampis, Kamsiatin, wanita energik yang hobi menjahit ini mencoba mengembangkan usaha jahit tas perca. Waktu luangnya diisi dengan kegiatan yang dapat membantu ekonomi keluarga. Mendapat bahan dari kota Yogyakarta, Kamsiatin mendapat upah jadit sebesar Rp 3250/tas. Awalnya, hanya ia sendiri yang menjahit puluhan tas menggunakan mesin jahit sederhana. Melihat banyak ibu-ibu yang mempunyai kemampuan menjahit, Kamsiatin pun mencoba mengajak lima ibu bergabung. Dalam seminggu, lebih dari 20 pc tas dapat diselesaikan setiap ibu di Dusun Tanjung Reco, Wijimulya, Kulon Progo. “Terkadang baru dapat 10 tas sudah ada yang setor dan menukar dengan upah jahit untuk belanja atau bayar sekolah anaknya,” tutur ibu Kamsiatin menceritakan antusiasme para ibu kelompok jahitnya. Mendapatkan pelatihan dari edukator FSP SOS Yogyakarta, kini lebih dari 15 ibu telah bergabung menjadi penjahit tas perca. Para ibu ini kini tak hanya membantu para suami memperbaiki ekonomi keluarga, tetapi juga bisa menabung hasil usahanya untuk membeli mesin jahit sendiri. Cita-cita mereka sangat sederhana, ingin kursus menjahit agar dapat lebih mengembangkan model tas lainnya. Hasil jahitan para ibu-ibu di dusun Tanjung Reco kini berderet dijajakan sepanjang jalan Malioboro. 

duo-kartini-2.png

Bersama Mujiati dan Kamsiatin, puluhan wanita sederhana di Kulon Progo bisa menikmati kehidupan yang lebih baik. Sederet Kartini lain pun tengah berjuang di segala penjuru Indonesia untuk memperjuangkan kesempatan yang setara bagi wanita di berbagai bidang kehidupan agar bisa mendukung kualitas hidup keluarga mereka. SOS Children’s Villages Indonesia senantiasa mendukung dan menjadi jembatan bagi peningkatan kualitas hidup keluarga-keluarga di Indonesia. 

  • Atas
  • Cetak