#KadoUntukIbu: Ibu Nuraini: Tanamkan Cinta dan Rasa Bersyukur


Tak terasa hampir 10 tahun sudah ibu Nuraini mengabdikan dirinya menjadi ibu asuh di SOS Children’s Village Banda Aceh. Ibu Nuraini adalah salah satu ibu asuh yang sejak pertama village Banda Aceh berdiri sudah mengasuh anak-anak yang saat itu mayoritas adalah anak-anak korban tsunami. Saat itu, pada bulan Desember 2005, Nuraini tak sengaja mendengar iklan di radio tentang lowongan ibu asuh untuk menjadi ibu bagi anak-anak korban tsunami yang kehilangan pengasuhan.


“Seketika itu juga saya tergerak untuk melamar. Anak-anak itu membutuhkan saya, demikian saat itu batin saya meneguhkan niat untuk menjadi ibu asuh di SOS Children’s Village Banda Aceh,” kenangnya ketika mengingat saat pertama ia memutuskan melamar menjadi ibu asuh.

Gempa maha dahsyat Tsunami yang meluluhlantakkan Aceh 26 Desember 2004 lalu menelan banyak korban. Ibu Nuraini pun juga merasakan duka yang mendalam saat harus kehilangan 40 lebih sanak saudaranya akibat terhantam gelombang tsunami. Ketika pertama bergabung di SOS, Ibu Nuraini masih berusia 27 tahun. Bukan hal yang mudah untuk bisa mengambil hati anak-anak asuhnya saat pertama ia diberi tanggung jawab mengasuh anak-anak korban tsunami.

“Mengasuh anak-anak dengan trauma tersendiri, salah satunya anak-anak korban tsunami tidak semudah yang saya bayangkan. Membangun kepercayaan dan membuat anak-anak nyaman dan mau menerima saya sebagai ibunya butuh waktu dan pendekatan yang khusus. Rasanya luar biasa sekali ketika anak sudah mau menerima kehadiran saya dan memanggil saya Ibu,” ungkapnya.

Ketika anak-anak asuhnya sudah memanggilnya “Ibu,” di situlah kepercayaan anak-anak akan dirinya mulai tumbuh. Bagi Ibu Nuraini, memposisikan diri sebagai sahabat agar anak merasa nyaman untuk bercerita apapun adalah salah satu caranya untuk membangun komunikasi dan kedekatan dengan anak-anak asuhnya.
 


Maria Ulfa adalah anak asuh korban tsunami pertama yang diasuhnya. Ketika pertama masuk SOS, Maria sudah duduk di kelas 2 SMP. Bagi Ibu Nuraini, momen saat pertama kali Maria memanggilnya “Ibu” adalah salah satu pengalaman yang mengharukan saat masa-masa awalnya menjadi ibu asuh.

“Semua musibah, bencana, itu adalah takdir Allah, dan pasti ada hikmah di balik semua itu. Selama kita mampu mensyukuri nikmat yang Allah berikan, insyaAllah kita akan merasa damai dan bahagia. Yakinlah bahwa Allah mempersiapkan hal-hal baik lainnya untuk kehidupan kita,” itulah yang kerap kali ia tanamkan ke anak-anak asuhnya untuk tak lupa bersyukur dan positive thinking.

Bagi wanita kelahiran 11 November 1978 ini, keberhasilan anak-anak asuhnya adalah sumber kebahagiaan utamanya. Melihat satu persatu anaknya meraih prestasi, lulus sarjana, menikah dan berkeluarga kian memberinya energi untuk melanjutkan pengabdiannya mengasuh anak-anak. Baginya, menjadi bagian dari anak-anak yang tumbuh dan berproses dengan segala lika-liku perjuangan dan perjalanan hidup mereka adalah hal terindah menjadi ibu asuh.
 


Maria Ulfa, anak asuh pertamanya kini sudah menikah dan memiliki anak. Setiap lebaran tiba, Maria mengajak suami dan anaknya ke rumah Ibu Nuraini, saling melepas kangen, berbagi cerita seperti layaknya keluarga pada umumnya. Kebahagian Ibu Nuraini kian bertambah saat awal Oktober lalu, salah satu anaknya, Yulidar, berhasil menyelesaikan kuliah D3 kebidanan

“Saya selalu sampaikan ke anak-anak bahwa kejujuran dan kesabaran adalah modal awal menuju kesuksesan. Saya berharap anak-anak dapat menjadi orang-orang yang baik, jujur, dan bermanfaat bagi banyak orang,” pungkasnya.

 

  • Atas
  • Cetak