#KadoUntukIbu: Surat dari Anakku

Buat Ibuku,

Ibu, bila anak-anakmu nakal dan telah menyakitimu, kami minta maaf. Satu permintaan kami, Ibu jangan pergi tinggalkan kami. Kami sangat membutuhkan Ibu.

Dari anak-anakmu.



Itulah isi surat yang dibuat anak-anakku 25 tahun lalu. Namaku Maria Pudji Astuti, biasa dipanggil Bu Pudji oleh anak-anakku. Lima tahun pertamaku menjadi ibu di SOS Children’s Village Semarang terasa sangat berat.

Hatiku goyah dan ingin rasanya menyudahi tugasku menjadi ibu. Sampai di suatu hari aku mendapat surat dari anak-anakku. Surat itu diselipkan mereka dibawah bantal, aku temukan sesaat aku pulang dari rumah sakit mengantarkan Nia yang panas tinggi. Semua berawal dari perasaanku yang tidak bisa mengasuh 13 anak di rumah Nusa Indah.

Surat pengunduran diri kubuat dan kuserahkan kepada Pak Kuswardana yang kala itu menjadi village director. Tak berpikir panjang, aku hanya ingin keluar dari pekerjaan ini. Setelah membaca surat pengunduran diriku,

Pak Kus panggilan sehari-hari village director Semarang, hanya tersenyum dan menyampaikan kata singkat “coba ibu lihat Nia dan Kelik. Bagaimana nanti mereka kalau ibu tinggal?” ucap Pak Kus. Keinginanku yang sudah bulat ingin segera keluar, seketika menjadi kesal mendengar ucapan pak Kus. “Apa hubungannya aku yang akan keluar dengan Nia dan Kelik?” pikirku penuh emosi.


Seperti sebuah ikatan batin, di hari aku menyerahkan surat pengunduran diri tiba-tiba Nia salah seorang anakku panas tinggi dan harus dilarikan ke rumah sakit. Tak teringat surat pengunduran diriku, aku pun bergegas membawa anakku ke rumah sakit. Dan itulah titik balik dalam hidupku, aku pun mencoba menata hatiku untuk bertahan demi Nia, Kelik dan anakku lainnya. Perasaan egois ingin meninggalkan mereka sirna saat mereka memelukku sambil membisikkan kata singkat di telingaku “aku sayang ibu”.

Sejak hari itu kami sama-sama berproses, belajar tentang ketulusan, kejujuran dan kerendahan hati. Satu kalimat dari Bapak Agus Prawoto pendiri SOS Children’s Villages Indonesia selalu menjadi motivasiku, “Cintai anak-anakmu tanpa syarat, hingga mereka merasa dicintai”. Mencintai anak bukan sesuatu yang mudah, tetapi harus diperjuangkan. Setiap anak memiliki keunikan dan keistimewaan, inilah yang mewarnai hari-hariku. Ditinggalkan anak-anak untuk menjadi mandiri, adalah satu kebahagiaan dalam hidupku.
 


“Ibu, ibu itu sudah berapa tahun to di SOS?” tanya Riko yang sore ini menemaniku menyiram tanaman.

“Ibu bekerja sejak bulan Januari tahun 84, berarti sekarang sudah 31 tahun, 11 bulan. Ono opo dek ? kok tiba-tiba tanya begitu?” jawabku.

“O, ingin tahu saja. Berarti anak ibu udah banyak yo bu?” tanyanya kembali, dan aku pun jadi menghitung berapa banyak anak yang sudah ku asuh selama ini. 

“Ibu punya 33 anak dan 18 cucu” jawabku sambil menghitung. Riko anakku memang sedikit kritis, dia senang bertanya banyak hal yang ingin dia ketahui.

“Gak pusing po bu ngurus banyak anak?” kembali Riko mengajukan pertanyaan yang membuatku tersenyum geli.

“Lah ya gak to, kan sudah banyak yang mandiri. Sekarang kan tinggal sembilan yang di rumah.” ujarku.

Tiba-tiba Riko mengurutkan nama satu persatu anak-anak yang ada dirumah Nusa Indah,

“Mbak Ning, mbak Sovi, mbak Oliv, mas Teo, Riko, Putri, Farly, Danis. Kalo Danis anak nomor berapa ya bu?” ujar Riko penuh penasaran.

“Alahh, yo ibu gak tau, yang pasti semua nomor 
satu di hati ibu!” jawabku sembari memeluk Riko yang selalu membuatku merasa hidup ini penuh warna diusiaku yang tak lagi muda.

 

  • Atas
  • Cetak