#KadoUntukIbu: Saya Dipanggil Ibu, Eyang Juga !

Sambil menikmati makan siang bersama anak-anak, wanita berwajah teduh ini berbincang tentang kegiatan tadi di sekolah. Sebelum beranjak dari kursi, ia mengingatkan sesuatu ke beberapa anak lelakinya “selesai makan, jangan tidur siang ya! Kita ke belakang dulu” ujarnya. Ajakan ini membuat anaknya penasaran, “mau ngapain bu?” tanya Jimmy salah satu anak laki-lakinya. “Itu pakaian yang sudah ibu rendam, tolong dicuci ya!” ujar si ibu.
 

“Kan kita kemarin abis mencuci bu?” tukas mereka lagi sedikit mengelak. Sang ibu pun dengan tenang menjawab, “itu yang ibu rendam pakaian Tino yang kalian umpetin di atas lemari, nah sekarang semua bareng-bareng mencucinya ya.” Dan sejak hari itu tidak ada lagi ulah usil anak laki-lakinya yang senang menyembunyikan baju saudara serumahnya.

Candida Kasiyati wanita kelahiran 19 November 19__, mengenang kembali masa indahnya saat ia masih menjadi ibu di rumah Lely SOS Children’s Village Jakarta. Hampir 4 tahun ini Ibu Candi biasa ia disapa memasuki masa pensiun. Kini hari-harinya dihabiskan di sebuah rumah kecil di sisi belakang Village Jakarta yang menjadi tempat masa tuanya. Rumah sederhana dengan pepohonan rindang ini menjadi tempat anak-anaknya singgah menyapa dan menemani hari-hari sepi Ibu Candi. Hatinya tetap ingin merawat anak-anaknya, tetapi raganya tak lagi sekuat dulu.

Tahun 1985, Ibu Candi yang kala itu masih menjadi ibu asrama sebuah yayasan di daerah Lenteng Agung, mengantarkan seorang anak asuhnya pindah ke SOS Children’s Village Jakarta. Melihat kehidupan keluarga di SOS, seketika ia jatuh hati dengan pengasuhan yang dijalankan SOS. Anak-anak bukanlah objek yang bisa dipindah ke sana kemari seperti yang dialami anak-anak di tempatnya bekerja. Ibu Candi ingin sungguh-sungguh menjadi ‘ibu’ bagi anak-anak, tidak ada rasa bersaing dengan teman sejawat atau sekedar menjalankan tugas. Juni 1985, Ibu Candi memutuskan menjadi ibu di SOS Children’s Villages Jakarta.

 


 

Anak-anak yang dipercayakan padanya memiliki beragam latar belakang, bahkan tak satu suku dengannya. Perbedaan itu tak membuat Ibu Candi goyah. Keinginannya hanya satu, menyatukan anak-anak menjadi satu keluarga utuh yang saling menyayangi. Setiap anak mempunyai kebutuhannya sendiri-sendiri, dan Ibu Candi mencoba memberikan perhatian kepada semua anak yang membuat mereka menjadi special. Kegagalan anak-anaknya sudah menjadi santapan hari-harinya. Bukan menjadi beban, tetapi Candida semakin kuat menjadi orangtua. “Saya selalu peluk mereka setiap malam, dan membisikkan doa agar mereka menjadi anak baik” ucapnya bijak.

Hampir 30 tahun Ibu Candida menjadi ibu bagi anak-anak di rumah Lely. Melepas mereka dengan ibu pengganti di masa pensiun adalah sesuatu prestasi sepanjang kehidupannya. Ikatan emosional yang kuat antara ibu dan anak membuat Ibu Candi sulit meninggalkan anak-anak. Waktu menjawab kegundahannya, anak-anaknya yang tumbuh dengan baik dalam cinta bersama ibu pengganti meyakinkan Ibu Candi menyerahkan rumah Lely.

 


 

“Saya sekarang dipanggilnya ibu, eyang juga” guraunya. Ibu Candi kini sudah memiliki cucu sekitar sepuluh orang dari anak-anaknya di rumah Lely. Kunjungan mereka di setiap ulang tahunnya menjadi penyemangat ibu Candi untuk terus sehat. “Rumah kecil ini tetap terbuka untuk mereka datang setiap saat. Ini rumah mereka.” ujar eyang Candi sembari menggendong cucunya yang sedang berkunjung.
 

  • Atas
  • Cetak