#KadoUntukIbu: Sampai Kapanpun Tidak Ada Bekas Anak

Raut wajahnya terlihat bingung saat harus menjawab pertanyaan “apa kesulitan yang dihadapi menjadi seorang ibu asuh?”. Anik Wuryanti, perempuan kelahiran 16 Oktober 1961 ini berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan tersebut. “Sedih hati saya saat anak-anak yang saya asuh belum bisa mandiri. Saya tidak bisa mendampingi mereka seumur hidup, bagaimana mereka nanti saat tidak bersama saya lagi?” ungkap Ibu Yanti biasa ia disapa.



 
Sebelum menjadi ibu di SOS Children’s Village Jakarta, Yanti pernah menjadi pengasuh bayi di sebuah yayasan. Hatinya selalu menangis saat bayi yang diasuhnya diadopsi. Saat mengetahui ada lowongan menjadi ibu asuh di SOS Children’s Village Jakarta, Yanti pun memberanikan diri melamar. Oktober 1985, Yanti mulai menjadi ibu di rumah anyelir SOS Children’s Village Jakarta. Ibu Yanti begitu ia dipanggil oleh empat anak pertamanya, sangat bangga ia mendapat panggilan ibu. Tugasnya tidak mudah, menyatukan berbagai latar belakang anak dalam satu keluarga. Bagaimana ia berusaha mengajarkan anak-anaknya saling rukun sebagai saudara, saling menyayangi dan kompak satu sama lain.
 
Di dalam pikirannya tak ada lagi perpisahan dengan anak setelah menjadi ibu di SOS. Semua anak akan diasuhnya sampai mereka dewasa kelak. Hatinya gembira saat mendapatkan anggota keluarga baru yang menjadi bayi pertamanya. Pertumbuhan dan perkembangan si bayi menjadi semangat hari-harinya. Tiga tahun berlalu, cerita sedih terulang kembali. Dini nama bayi mungilnya yang tumbuh menjadi balita menggemaskan, di jemput kembali oleh orangtuanya. Tak bisa menahan sedih berpisah, Ibu Yanti pun mendadak pingsan sesaat melepas sang anak ke orangtua kandungnya. “Saya sudah sayang sekali sama Dini” ucapnya sendu mengingat kembali cerita puluhan tahun lalu.
 

   
 
“Tidak ada bekas anak bagi saya, semua yang pernah berada di rumah ini adalah anak saya” ujar Ibu Yanti dengan lantang. Rumah anyelir adalah tempat bagi anak-anaknya kembali, kapan pun mereka bisa datang. Masakan rumah yang lezat menjadi kenangan bagi anak-anak ibu Yanti yang sudah mandiri. Pulang ke rumah anyelir dan bisa menikmati kembali masakan ibu, “kangen masakan ibu!” ucapnya menirukan bahasa anak-anaknya setiap mereka pulang.
 
Tiga puluh tahun Ibu Yanti menjadi ibu bagi anak-anak yang bukan darah dagingnya. Tidak menikah pun menjadi pilihan hidupnya yang sudah terlanjur cinta dengan anak-anak. Ada rasa berkecamuk dalam dirinya kala anaknya menanyakan asal asul keluarganya. Serasa di terpa badai saat harus memberitahu kondisi keluarga kandung mereka. Bukan karena takut kehilangan, Ibu Yanti tak ingin mereka sedih saat mengetahui kondisi keluarga kandungnya. Walau berat, Ibu Yanti wajib memberitahu siapa keluarga kandung mereka. “Anak yang ada disini gak bisa saya pilih, siapapun mereka, dari mana mereka datang, bagaimana kondisi mereka, ya saya terima sebagai anak saya” ucapnya.
 

  • Atas
  • Cetak