#KadoUntukIbu: Mencintai Anak dengan Kelebihan dan Kekurangannya

23 tahun menjadi ibu asuh bukanlah waktu yang singkat. Terlebih lagi bagi Ibu Rini yang pada awal memutuskan menjadi Ibu asuh, tak pernah berencana mengabdikan hidupnya selama puluhan tahun menjadi Ibu Asuh.

Ketika itu, di tahun 1992, Ibu Rini yang masih berusia 24 tahun memutuskan untuk menyudahi studinya di Institut Pastoral Indonesia (IPI) Malang dan merantau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan. Pamannya yang sudah lebih dahulu mengenal SOS Children’s Villages, memberi tahu tentang lowongan menjadi ibu asuh dan mendorong Ibu Rini untuk melamar. Walau saat itu ia tak begitu yakin untuk menjadi Ibu asuh, Bu Rini akhirnya iseng-iseng mengirimkan lamarannya.
 


"Karena saya menyukai pekerjaan sosial, saat itu Paman saya berpikir kalau pekerjaan ibu asuh akan cocok dengan saya. Saat pertama memutuskan melamar sebagai ibu asuh, saya bertekad untuk hanya bekerja setahun saja, yah daripada saya menganggur tak punya pekerjaan. Namun, semua terjadi di luar rencana. Tak butuh waktu lama untuk saya jatuh cinta dengan anak-anak,” kenang Ibu Rini.

Sebelum menjadi ibu asuh di SOS Children’s Village Lembang, Ibu Rini pernah bekerja di sebuah Yayasan di Malang untuk mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Karena pengalamannya itulah maka bu Rini bisa menjelaskan kriteria anak yang berkebutuhan khusus dan seperti apa pendampingan yang tepat.

“Setiap anak yang saya asuh, semuanya memiliki keunikannya sendiri. Pengalaman membesarkan mereka menyimpan kenangan masing-masing yang akan selalu saya kenang. Saat ini saya sudah punya 9 cucu. Saya ingin menghabiskan masa pensiun saya di sini, di SOS Children’s Village Lembang. Saya ingin selalu dekat dengan anak-anak.”

Saat ini di rumahnya, Ibu Rini mengasuh 10 anak. Setiap anak memiliki karakter dan bakatnya masing-masing. Laurel misalnya, anak laki-lakinya yang saat ini berusia 15 tahun sangat berbakat melukis. Ketertarikan dan bakat Laurel melukis terdeteksi ibu Rini sejak Laurel masih di Taman Kanak-Kanak. Ketika itu Laurel sempat mencoret-coret tak beraturan di tembok, hingga akhirnya Ibu Rini membelikannya buku gambar dan alat menggambar.

“Laurel bercita-cita ingin menjadi arsitek, sama seperti kakaknya. Saya ingat dulu waktu Laurel bayi, kakaknya yang sekarang menjadi seorang arsitek sering menggendong-gendong Laurel kecil. Mungkin sedikit banyak ia juga mengidolakan kakaknya, jadi terinspirasi untuk menjadi arsitek dan pelukis terkenal, di samping juga Laurel memang sangat berbakat,” jelas Bu Rini bangga.


Anak asuh lainnya adalah Miranti. Sama halnya dengan Laurel, Miranti pun memiliki bakat istimewa. Miranti yang saat ini kuliah di Universitas Pendidikan Indonesia Bandung termasuk salah satu atlet lari kebangaaan di provinsi Jawa Barat. Berbagai kejuaraan lari telah berhasil diraihnya.

“Miranti ini memiliki karakter yang sangat mirip dengan saya, bahkan banyak yang bilang wajahnya juga sangat mirip dengan saya. Cerita awal mula bakat larinya mulai muncul cukup unik juga. Saat itu Miranti kecil seringkali terlihat murung di rumah. Akhirnya saya ajak dia untuk ikut kegiatan olahraga. Saya daftarkan dia untuk ikut latihan lari,” ujar bu Rini.

Awalnya Miranti tidak menyukai lari, namun saat itu pelatihnya banyak bercerita kepada Ibu Rini kalau Miranti memiliki bakat alami. Berbekal masukan dari sang pelatih, Ibu Rini terus memotivasi

Miranti untuk tetap berlatih. Akhirnya lambat laun, karena beberapa kali Miranti berhasil memenangkan kejuaraan, ia mulai menyukai lari dan menekuninya hingga sekarang.

Bagi Ibu Rini, mendampingi anak-anak untuk menemukan dan menggali potensinya serta membangun rasa percaya dirinya adalah bentuk dukungan yang dapat ia berikan untuk mengantarkan anak-anaknya meraih sukses. Untuk dapat memahami dengan baik kebutuhan anak, ia selalu berusaha untuk membangun kedekatan dan komunikasi dengan anak-anaknya.

“Tiap akhir pekan atau saat anak-anak sedang berkumpul di rumah, saya sering mengajak mereka untuk melakukan aktivitas bersama-sama, seperti berkebun atau bikin kue. Selain mengajarkan mereka keahlian baru, juga bisa merekatkan hubungan saya dengan anak-anak dan juga antara anak-anak saya di rumah,” tutupnya.

 

  • Atas
  • Cetak