Ibu Pur: Cintanya Lebih Besar Dari Rasa Sakit di Tubuhnya

“Kasih Ibu kepada beta, tak tehingga sepanjang masa.” Petikan lagu “Kasih Ibu” karya SM Mochtar ini menggambarkan pengalaman hidup seorang Anastasia Sri Wahyuni Purwanti atau yang akrab disapa Ibu Pur. Wanita kelahiran Muntilan 15 April 1959 ini telah menjadi ibu di SOS Children’s Village Jakarta sejak tahun 1984 ketika usianya masih tergolong belia. Kala itu anak yang diasuhnya di rumah Hermann Gmeiner hanya berjumlah empat orang yang merupakan anak-anak pertama Village Cibubur.

Selama lebih dari 20 tahun pengabdiannya, silih berganti, puluhan anak tumbuh dalam kasih sayang Ibu Pur. Malang, pada tahun 2004, kanker payudara menyerangnya. Pengobatan rutin pun harus dijalani Ibu Pur sebagai upaya menghambat tumbuhnya sel kanker di payudaranya. Namun, di sela rasa sakit yang mendera tubuhnya, Ia tak meninggalkan tanggungjawabnya sebagai ibu. Semua tugas dijalankan dengan penuh tanggung jawab, hingga dokter memutuskan untuk melakukan operasi pengangkatan payudara pada tahun 2005.
Dukungan dari anak-anak untuk kesembuhan Ibu Pur menjadi obat yang paling ampuh. Operasi dinyatakan berhasil dan Ia diharuskan istirahat total untuk pemulihan. Cintanya lebih besar dari rasa sakit yang harus dirasakannya. Ibu Pur tak ingin berpisah dari anak-anak, di saat pemulihan ia pun terus berusaha menjadi ibu yang baik dengan dibantu seorang asisten ibu di rumahnya.



Fisiknya tak bersahabat dengan besarnya rasa cinta pada anak-anak. Perlahan, kondisinya terus menurun. Sel kanker yang menggerogoti tubuhnya terus bertumbuh hingga Ia harus keluar masuk rumah sakit selama lebih dari 10 tahun. Kemotherapy pun menjadi hidangannya setiap hari. Bahkan, suatu waktu Ibu Pur harus mengiklaskan rambutnya menjadi botak karena efek dari obat-obatan yang dikonsumsinya. Tubuhnya terlihat kurus, matanya mulai sayu, tapi ingatannya untuk terus mencintai tak pernah pudar.

Tahun 2012, karena kondisi fisik yang terus menurun, Ia harus pindah ke rumah bunda SOS Children’s Village Jakarta, rumah bagi para ibu yang telah pensiun, untuk menjalani pemulihan maksimal. Seluruh tanggungjawabnya di rumah Hermann Gmeiner dialihkan kepada ibu pengganti. Bukan suatu hal yang mudah bagi Ibu Pur yang telah menghabiskan setengah hidupnya menjadi seorang Ibu untuk melepas tanggung jawabnya. “Saya ingin meninggal di tengah anak-anak yang saya cintai,” sepenggal kata yang pernah diucapkannya dulu. Beruntung Ia memiliki anak-anak yang selalu merindukan kehadirannya. Walau kini tak lagi mampu untuk berjalan, dari tempat tidurnya yang selalu menghadapap ke pintu, matanya terlihat berseri saat anak-anaknya datang menyapa dan sekedar memeluk.

Hidupnya kini harus tergantung kepada pertolongan orang. Perawat menjadi teman hidupnya. Hingga seorang anak mandiriwan dari rumah Hermann Gmeiner, Sisilia, datang untuk mengabdikan diri merawat sang ibu di saat sakitnya. Lebih dari dua tahun sudah Ibu Pur dirawat oleh Sisilia,  anaknya dulu di tahun 1985. Dari tim dokter dari RS Dharmais tempat Ibu Pur menjalani pengobatan, Sisilia mendapatkan pelatihan memasang selang sonde dan cateter. Kini, Sisilia seperti membalas apa yang dilakukan Ibu Pur saat masa kecilnya dulu. Ia memandikan, menggantikan underpad (diapers), hingga menemani mengobrol ibunya setiap hari.

Bantuan biaya dari pemerintah melalui BPJS sangat membantu pembiayaan pengobatan yang tak murah. Tak bisa lagi bangun dari tempat tidur, sebulan sekali dokter dari RS Dharmais datang memeriksakan perkembangan kesehatan ibu Pur. Tubuh yang dulu perkasa itu kini harus terbaring lemah sembari ditemani senyum dan pelukan anak-anaknya. Bibirnya tak lagi dapat menjawab celoteh riang anak-anaknya, tetapi matanya tak lelah menyimpan semua kenangan indah kala menjadi ibu bagi anak-anak di SOS Children’s Village Jakarta.  
  • Atas
  • Cetak