#KadoUntukIbu: Anak-anak Adalah Buku Bagi Saya

Rumahku kecil dan bukan istana, tetapi ada tempat bagi kasing sayang dan sahabat yang cinta perdamaian. Tulisan yang tertempel di dinding menyambut setiap tamu yang datang di rumah Kemuning. 1 Agustus 1995 menjadi pengalaman pertama Arista Saragih menjadi ibu di Rumah Kemuning SOS Children’s Village Jakarta. Keputusannya menjadi ibu bagi anak-anak di SOS Children’s Villages bukanlah sesuatu yang mudah. Kala itu usianya memasuki kepala tiga dimana menjadi saat yang tepat bagi seorang wanita membangun rumah tangga. Wanita kelahiran Sumatera Utara 27 Maret 1965 ini memutuskan mengabdikan diri menjadi seorang pengasuh. Pilihannya tak mudah, ia mengalami banyak dilema, salah satunya adalah penolakan dari keluarga besarnya. Waktu yang menjawab semua keraguan keluarganya. Kini seluruh keluarganya mendukung Arista bahkan menganggap anak-anaknya menjadi bagian keluarga besar mereka.



Mamak Arista biasa ia disapa menjadi ibu kelima di keluarga kemuning. Empat ibu pendahulunya hanya bertahan sekitar 2,5 tahun. Ketakutannya ditolak oleh anak-anak yang beberapa kali berganti ibu, terhapuskan saat ia disambut hangat oleh seluruh penghuni Rumah Kemuning. “Puji Tuhan saya dipakai oleh-Nya bukan karena hebatnya saya, tetapi karena Tuhan memberi hati kepada anak-anak untuk menerima saya apa adanya,” sepenggal kalimat mamak Arista yang menguatkan hatinya untuk menjalani pilihan hidupnya ini.

“Kita sama-sama bangun keluarga ini kembali ya anak,” ucap mamak Arista yang tak henti belajar dari kisah hidup anak-anaknya. Merawat anak-anak yang memiliki berbagai kisah hidup menjadi tantangan bagi Arista. Layaknya seorang ibu, Arista pun menjalani harinya dengan melayani segala kebutuhan anak-anaknya. Memasak, merapikan rumah, mencuci pakaian dan kegiatan lainnya mengisi harinya. Terkadang ada rasa bangga saat anak-anaknya berprestasi, di lain hari ia pun menangis dengan ulah nakal anaknya yang menjadi pembelajaran hidup. “Anak-anak adalah buku bagi saya, setiap hari saya belajar hal baru dari mereka,” ujar Arista yang sudah 20 tahun menjadi ibu di rumah Kemuning.

Rasa jenuh sering menggelayuti harinya sebagai ibu di rumah Kemuning. Arista memberanikan diri mencari kesibukan sebagai pelayan Tuhan di gereja. Di waktu luangnya, Arista membawa anak-anaknya pergi ke sebuah panti werdha hanya untuk membantu mengguntingkan kuku oma dan opa. Dari hal sederhana inilah, Arista mengajarkan kepada anak-anaknya melayani sesama. Kini Arista menjadi seorang Diakon dan Presbyter di gereja AGAPE Cibubur tanpa harus meninggalkan tugas utamanya sebagai ibu.


20 tahun melayani di rumah Kemuning, silih berganti anaknya datang dan pergi. “Pahmawati sekarang hidup mandiri bersama suami dan anak-anaknya di Irian Jaya. Pilipus anakku yang bandel itu sekarang punya istri yang cantik dan anak-anak yang ganteng di Jakarta. Eli yang sering bikin aku menangis, sudah menjadi ibu rumah tangga yang baik. Simson anak lakiku yang pernah jadi kejar-kejaran polisi, sekarang sudah tobat. Ia jadi pelayan Tuhan,” cerita mamak Arista penuh semangat. “Tapi aku kehilangan kontak si Ina, tak tahu dimana dia sekarang. Tapi aku yakin dia pasti baik,” ucapnya pelan. Itulah mamak Arista yang tak pernah lupa dengan semua anaknya. Setiap Natal tiba, semua anaknya datang berkumpul di rumah kemuning. “Inilah rumah mereka, kesinilah mereka pulang!” ungkap mamak yang berhasil mengikat semua anaknya dalam persekutuan keluarga.

Tugas Arista masih terus berjalan, kini si sulung Kristo membutuhkan dukungannya, Imanuel selalu merindukan omelannya. Tiga anak gadisnya Delia, Elisabet dan Selmi membutuhkan figur ibu. Mita, Michael dan Chacha selalu mencari tempat bermanja. Rumah kemuning menjadi nafas hidup bagi Arista. Ia mengajarkan cinta kepada anak-anaknya dan menjadikan mereka batu karang yang kokoh untuk hidup di masa depan. “Kami berjuang bersama, kami bertumbuh bersama. Kami adalah keluarga.” ungkap mamak menutup obrolan sore itu di teras rumah Kemuning.

 

  • Atas
  • Cetak