Tsunami Survivor

Duka Hanyut Berganti Asa

Minggu pagi, 26 Desember 2004, saat warga dunia tengah hanyut dalam euphoria persiapan selebrasi pergantian tahun, bencana gempa tsunami mengguncang Aceh. Tercatat lebih dari 126.000 jiwa menjadi korban akibat gempa maha dahsyat tersebut. Puluhan gedung hancur lebur oleh gempa berkekuatan 9.3 skala richter itu, terutama di Meulaboh dan Banda Aceh di ujung Sumatera. Di Banda Aceh, sekitar 50% dari semua bangunan rusak terhempas gelombang tsunami. Gempa yang berpusat di tengah samudera Indonesia ini, juga memicu beberapa gempa bumi di belahan dunia lainnya.
 

Musibah yang menimpa negeri Serambi Mekkah mendorong SOS Children’s Villages Indonesia memberikan bantuan dan dukungan dalam bentuk emergency response, multipurpose social centre, dan pendidikan. Dengan mendirikan child-friendly spaces (CFS) di tenda-tenda pengungsian, relawan SOS berupaya untuk menyediakan kawasan atau area yang aman dan kondusif bagi anak-anak untuk dapat melakukan beragam kegiatan, bermain, dan berekspesi. Tidak hanya itu, sejak pertama Tsunami menghantam Banda Aceh, Meulaboh, dan sekitarnya pada 2004 lalu, SOS juga telah membantu upaya rehabilitasi dan rekonstruksi lebih dari 500 rumah di tiga desa yakni desa Lambadha Lhok, Suak Raya, dan Gampung Cot serta bangunan masjid, dan sejumlah sekolah serta Taman Kanak-Kanak. Banyaknya korban jiwa dan kerusakan infrastruktur mengakibatkan ribuan anak terpaksa harus kehilangan tempat tinggal dan orang tua. Untuk merespon kondisi ini, SOS berinisiatif membangun dua village yang berlokasi di Banda Aceh dan Meulaboh. Lima belas rumah telah dibangun di village Banda Aceh, dan dua belas rumah di Meulaboh dengan kurang lebih sepuluh anak dan satu ibu asuh di tiap rumahnya.


Sepuluh tahun berlalu, anak-anak korban tsunami itu kini telah menata masa depannya yang baru. Duka itu telah sirna, seiring dengan terbitnya harapan dan geliat mimpi putra putri Aceh. Mistahul Jannah misalnya. remaja putri yang kehilangan ibunya saat Tsunami itu kini telah tumbuh menjadi gadis yang berprestasi. Berbagai kejuaraan taekwondo telah berhasil dijuarainya. Tak terkecuali Abdurahman yang kini menjadi web developer di Politeknik Banda Aceh. Kisah inspiratif lainnya datang dari beberapa korban tsunami yang memutuskan untuk menjadi ibu asuh di village Meulaboh, juga kisah seorang korban tsunami yang menjadi staf adminisrasi village Banda Aceh yang telah mengabdikan dirinya selama tujuh tahun karena tergerak hatinya untuk membantu para korban lainnya. Putri Tsunami, gadis berusia 10 tahun yang dilahirkan di atas atap masjid saat Tsunami menghantam Aceh juga menjadi kisah tersendiri yang menyiratkan harapan melalui proses kelahiran yang tak biasa, sarat akan keajaiban. Keluarga Putri adalah salah satu dari 130 kepala keluarga yang menerima bantuan rumah tinggal di desa Gampong Cot. 
 

Melalui kampanye Tsunami Survivor, SOS bermaksud untuk mengangkat kisah para pejuang Tsunami (Tsunami Survivor) yang telah berhasil mengubah peristiwa pilu menjadi asa yang mampu mengantarkan mereka menggapai masa depan yang lebih cerah. Kami berharap kisah mereka mampu menjadi sumber motivasi dan inspirasi bagi anak-anak lainnya yang pernah mengalami kehilangan dan peristiwa traumatik serupa. Tak hanya itu, perjalanan 10 tahun pasca tsunami ini juga telah menorehkan setumpuk pembelajaran berharga bagi SOS Children’s Village sebagai lembaga non-profit yang bergiat dalam pengasuhan alternatif. Bahwa pembangunan infrastruktur penting dalam menanggulangi carut marut pasca bencana, namun bantuan dan dukungan jangka panjang, pembenahan individu-individu melalui pendidikan dan pengasuhan yang berkualitas pun menjadi kunci yang patut mendapat perhatian bersama guna mencapai pembangunan Aceh seutuhnya.

Lebih lanjut tentang Tsunami Survivor...
 
  • Atas
  • Cetak