Kristo Ingin Menjadi Diplomat yang Pandai Bermusik

“Buat saya Mamak Arista itu adalah pahlawan untuk hidup saya. Ia juga seorang teman yang baik. Ketika saya sedang ada masalah, pasti Mamak akan selalu mendampingi dan memberikan solusi. Saya juga bisa cerita atau curhat tentang apa saja sama Mamak, seperti seorang teman,” tutur Kristo saat ditanya seperti apa sosok Mamak Arista di matanya.
 
Kristo Ardyan, siswa kelas II SMA Pangudi Luhur ini sekilas terlihat pendiam. Namun di balik pembawaannya yang kalem, Kristo menyimpan harapan yang besar untuk bisa membahagiakan ibunya dan keluarganya di SOS Children’s Village Jakarta.  Tak terasa 17 tahun sudah ia tinggal di rumah asrinya bersama Ibu  Arista dan keluarga SOS. Diasuh oleh Ibu Arista sejak bayi, Kristo memiliki hubungan yang sangat dekat dengan “Mamak Arista,” begitu ia biasa menyapa ibunya yang berdarah batak.

 

Sejak kecil Kristo sudah menunjukkan bakat musiknya. Bahkan menurut Ibu Arista, sejak umur 5 tahun Kristo sudah tertarik dengan alat musik. Ketika itu di rumah mereka, alat musik keyboard tampak menarik perhatian Kristo kecil. Ketertarikan akan musik terus tumbuh hingga akhirnya saat kelas 3 SD Kristo mulai mempelajari keyboard. Ibu Arista yang pernah bermain organ, mulai mengajarkan Kristo memainkan kunci-kunci dasar. Setelah mulai menguasai kunci dasar, Kristo mengksplorasi kemampuan bermusiknya secara mandiri. 
 

 

 

Keterbatasan biaya untuk mengikuti kursus musik tak menjadi halangan baginya. Ibu Arista yang sejak bayi merawat Kristo, sangat mendukung dan berupaya lewat berbagai cara agar anaknya bisa belajar piano dengan baik. Dari keyboard bekas pemberian seorang sahabat, kini Kristo dapat semakin mengasah kemampuannya bermain piano. 


“Sampai sekarang Mamak selalu mendukung saya dalam bermusik. Mamak selalu mengingatkan saya: Kristo latihan yang benar ya, Nak, supaya kau bisa memainkan suatu lagu dengan indah,” begitu Mamak sering mengingatkanku


Keyboard, gitar, perkusi, piano, biola adalah beberapa instrumen musik yang dikuasainya secara otodidak. Walau demikian piano tetap mendapat tempat istimewa di hatinya. Musik-musik klasik dan gospel menjadi koleksi favoritnya. Karena kemampuan bermusiknya, Kristo didaulat untuk melatih kelompok perkusi SOS Children’s Village Jakarta. 

 

      

 

Ketekunan Kristo untuk terus mengasah kemampuan bermusiknya dan perjuangan ibu Arista untuk mendukung bakat bermusik Kristo berbuah manis. Awal Agustus 2015 Kristo dinobatkan sebagai nominator penerima International Award for Young People (IAYP) dari the Duke Edinburgh’s International Award.

Kristo berharap lewat musik ia akan bisa berkeliling dunia, memperkenalkan budaya Indonesia ke mancanegara. Ia bercita-cita ingin menjadi seorang diplomat yang pandai bermusik.

“Ketika mimpi saya terjawab, saya ingin melestarikan budaya Indonesia khususnya kesenian tak hanya di dalam negeri tetapi juga di negara-negara lain. Saya bercita-cita ingin menjadi diplomat atau duta besar. Saya ingin bisa ikut membangun hubungan diplomatik yang baik antara Indonesia dan negara lain lewat diplomasi budaya, musik salah satunya, sekaligus juga memperkenalkan budaya kita ke kancah internasional lewat kemampuan saya bermusik,” jelas Kristo. 

 

  • Atas
  • Cetak