“Mama dulu bekerja untuk saya dan kakak, dia tak pernah pikir kalau dia sakit, dia sangat sayang pada saya dan saya berjanji akan buat dia bangga”,

 

Itulah sepenggal cerita Ani memulai obrolan. Anastasia Pada biasa disapa Ani, menghabiskan masa kecilnya berpindah-pindah mengikuti ibunya bekerja. Katarina Pusung, ibu kandungnya seorang wanita tangguh, bekerja siang malam tak mengenal lelah untuk kedua anaknya. Katarina divonis mengidap kanker payudara, tetapi ia tidak memiliki biaya untuk berobat. Suatu hari sebuah biara suster menerima Katarina bekerja dan mengusahakan pengobatan baginya. Oleh para suster biara, Ani dan kakaknya diserahkan ke SOS Children’s Village Flores.

 

 

 


Biaya berobat yang mahal dan fasilitas tak memadai di rumah sakit daerah, membuat Ani kehilangan ibu untuk selama-lamanya. Rasa sedih Ani tumpah di pusara sang ibu saat mengantar ke peristirahatan terakhirnya. Di atas tanah makam ibunya, Ani berjanji harus menjadi dokter agar dapat membantu orang sakit. Ia tak ingin banyak anak kehilangan orangtua karena sakit, seperti yang dialaminya. Ani berjanji pada dirinya harus bisa wujudkan mimpinya itu. Ani termasuk anak yang pintar di sekolah, dan para guru sangat mendukung cita-cita Ani. Sejak kelas satu SLTP hingga kelas tiga, Ani selalu mendapat nilai 8,0 untuk semua mata pelajaran. Tak hanya pintar di sekolah, Ani pun aktif di Forum Anak Sikka (FAS) di kabupaten Sikka, mengikuti berbagai kegiatan seni dan berprestasi di kejuaraan catur. Ani sudah menyampaikan rencana studi lanjutnya, tetapi ia merasa sulit menggapai mimpinya. Biaya kuliah kedokteran yang sangat mahal menjadi kendala utama Ani melanjutkan ke bangku kuliah impiannya.

 

      


Ani dan ratusan anak lainnya melukis mimpi untuk masa depan yang lebih baik. Masih adakah kesempatan bagi Ani menjadi dokter bagi masyarakat Sikka Flores? Dukungan Anda mampu menumbuhkan optimisme Ani dan anak-anak SOS Children’s Villages lainnya wujudkan mimpi mulia mereka.

 

  • Atas
  • Cetak